Posts

Tidak Apa-Apa Ya

 Beberapa hari belakangan ini betul-betul melelahkan, aku harus pintar-pintar membagi waktu untuk kesibukan sambil babak belur mengatur pikiran dan perasaan. Banyak hal yang harus diselesaikan, tetapi di sisi lain rasanya aku lelah dan hanya ingin menangis meringkuk seharian. Rasa-rasanya kemarin ingin menyerah saja. Beban yang kulawan tidak kasat mata. Tidak tahu harus aku mulai dari mana. Tidur sudah tidak menjadi kegiatan istirahat, melainkan kegiatan untuk sejenak melarikan diri dari kenyataan. Aku lelah dan hampir rebah. Tetapi aku pun mengerti jika tidak ada yang abadi di dunia. Tidak pula sedih, tidak pula bahagia.  Hidup seperti kincir ria, yang harus kita alami tiap fasenya, sebentar di atas lalu sebentar di bawah; agar mampu menikmati serangkaian pemandangan yang indah. Dalam waktu sakit-sakitku, aku bertumbuh. Dalam waktu bahagia-bahagiaku, aku tidak layu. Merasa lelah rupanya lumrah.  Kita manusia.

Wajar, Kekasih

  sengaja masih kutanam namamu di kepala dan jika malam sudah bersama sepertiga kupetik namamu sering-sering lalu menaruhnya di tumpukan doa yang siap berdesing. tapi, kekasih. kau sudah bukan kekasihku. seperti yang kau dan aku tahu: penyair dan penyiar sama-sama gemar menyampaikan berita seperti kesamaan tidak bisa tidur bagi perindu dan peronda tapi yang harus kau pahami yang pandai membuat sajak belum tentu pandai membuat sejuk. wajar, kekasih. jika kau berhenti jadi kekasiku. dan aku yang jadi tunggal sebab kau tinggal sengaja melupakan bagaimana caranya melupakan tak apa, kubilang tak apa, kauhilang sungguh! aku hanya sedang terlalu senang bermain-main di kota kenang walau tak jarang mataku melahirkan genang. sebab, kekasih. kau bukan lagi kekasihku.

Tuhan, Izinkan Aku

 Tuhan, Izinkan aku melepaskan segala kecewaan, biarkan ia meluap begitu saja, asal tidak mendekap dalam diri ini. Izinkan untuk aku melepaskan segala hal-hal yang menyakitkan, yang menyebabkan aku malah banyak menyalahkan segalanya Izinkan aku melepaskan sumpah serapah yang bertuan. izinkan aku menerima segala doa baik yang diucapkan untuk diri ini.  Izinkan aku untuk selalu lapang dan ikhlas. izinkan diri ini menerima lembar dan cerita baru yang lebih baik lagi izinkan diri mencoba kesempatan-kesempatan lain yang lebih baik dan tolong perbolehkan diri ini lebih lama tersenyum untuk bahagia

AKU TIDAK BISA MENERKA

 Tidak ada yang bisa menerka isi hati manusia. Ada yang terlihat selalu ceria, dan tidak ada yang tahu bila tiap malam ia menangis dalam tidurnya. Ada yang terlihat selalu marah, dan tidak ada yang tahu bila sikapnya begitu sebab sudah terlampau banyak kecewa. Ada yang terlihat angkuh, sebab tiap kali ia bercerita, semua orang tak mau dengar dan menganggapnya terlalu rapuh. Ada yang terlihat setia, tetapi kekasihnya ada di mana-mana. Ada yang tertawa, sebab hanya itu cara yang ia tahu untuk membendung air mata. Ada yang terlihat tulus luar biasa, tetapi sebenarnya hanya ingin memanipulasi saja. Sungguh, dalamnya hati manusia tiada yang mampu menerka.

BUKAN AKU (?)

 Saat itu, aku hanya ingin membuatmu bahagia. Tapi kalau hasilnya tidak seperti yang aku perkirakan, itu bukan rencana aku  Tapi apa benar aku orangnya? Atau ada orang lain yang lebih membuatmu bahagia?  Aku tau aku tidak boleh egois, kamu harus bahagia. Walau nantinya harus ku terima bahwa bukan aku orangnya

Nanti Giliran Ku

 Aku berdoa pada Tuhan, mengeluh sebab seharian hawa di kotaku panas tak kepalang, aku meminta hujan turun untuk mendinginkan. Aku bersungut-sungut sebab doaku tak kunjung dikabulkan. Tanpa aku ketahui, ada doa seorang penjual minuman pinggir jalan yang ingin dagangannya laku sebab malam nanti harus menebus obat, ada doa seorang orang tua tunggal yang belum punya biaya membetulkan genteng dan atap rumah, ada seorang supir yang baru saja kehilangan kacamatanya tak mampu melihat jelas jalanan yang tertutup rintik hujan padahal sedang kejar setoran. Doa manusia bermacam-macam. Tunggu giliran. Semuanya tak bisa semaumu. Yang ditunda belum tentu tak indah.

KOTA HUJAN

 kita

Mungkin Sudah Bukan Kita Lagi

  Mungkin benar katanya; sudah bukan dia lagi yang harus aku ajak makan eskrim bersama, sudah bukan dia lagi yang harus mendengar apa yang aku ceritakan dan sudah bukan dia lagi yang tangannya aku genggam ketika sedang tidak baik-baik saja. atau mungkin sudah bukan aku lagi yang harus kamu ajak potong rambut ditempat langgananmu, sudah bukan aku lagi tangannya yang kamu genggam ketika dimotor, sudah bukan aku lagi yang bisa kamu tanyakan segala hal tentangmu. ya, mungkin sudah bukan kita lagi

Akan Datang

 Kelak akan ada waktu dimana kamu akan mengingat sebagian kecil tentangku dan kamu berkata; 'dia perempuan yang tidak pernah meminta apapun dariku tetapi selalu ku sia siakan keberadaannya karena ketidakpuaasan ku dan ke egoisanku padahal kenyataannya dialah perempuan yang paling hebat dan aku tidak bersyukur atas apa yang aku miliki saat itu'

Ayo Kita Lakukan (Lagi)

 Ayo kita bercerita, berdebat, berdiskusi lagi. bercerita bagaimana harimu yang melelahkan. keluhmu tentang pekerjaan, kesahmu dalam menghadapi hari, berdebat karna tak saling memberi kabar, makan apa yang ingin kamu makan. sayur apa yang selalu kamu sisakan arah mana yang kamu lalui, berdiskus tentang baju barumu, potongan rambut yang kamu inginkan. apapun itu asal denganmu.