Posts

Di Umur Dua Puluh Enam Tahun

  aku menulis ini bersama warna waktu yang mulai luntur , harapan yang memudar tapi semoga tidak hilang untuk dunia kecilmu, aku ingin kamu menyadari bahwa masalah-masalah yang menghampirimu tidak lebih besar dari jendela kamarmu dan aku berdoa semoga kamu selalu menemukan bahagia yang besar pada setiap hal kecil yang datang kepadamu aku harap kamu diberi banyak mudah pada setiap jalan yang sulit, diberi banyak mampu lewati hari-hari yang berat. selamat ulang tahun ar. semoga tuhan memberimu porsi bahagia yang jauh lebih besar. Terakhir, semoga semua semoga-semogamu tidak sia-sia . Selamat memulai tahun ar. untuk hari hari kedepannya mari hidup sebaik-baiknya dan sebahagia bahagianya

Bulan Sepuluh

 Bohong bila aku berkata bahwa hidupku selalu berjalan sesuai rencana. Bohong bila aku berkata aku tidak pernah terkejut akan betapa cepatnya waktu berjalan. Rasanya, baru saja aku berbahagia dan mengucap berbagai resolusi untuk tahun ini yang berupa-rupa lalu sekarang tanpa terasa sudah ada di bulan sepuluh Ada malam-malam sewaktu aku sudah sendirian namun kantuk belum datang; lalu bersama kelam, pikiranku melayang-layang. Aku menebak-nebak akan berada di mana aku sekarang kalau saja beberapa bulan lalu mengambil keputusan yang berbeda. Aku menebak-nebak akan berakhir di mana aku nanti saat usia dua puluh lima. Aku pernah hanyut dalam arus pikiranku yang menduga-duga, pernah merasa yang aku lakukan sia-sia, pernah merasa kalau aku berada pada tempat yang salah. Lantas, aku pelan-pelan mulai memahami bila hidup bukan perkara siapa yang paling cepat, namun perkara bersabar dan menjalani semuanya dalam waktu yang tepat. Aku mulai memahami bila semua yang ditakdirkan untukku tidak aka...

Buku Yang Telah Selesai

 Banyak pesan belum disampaikan Banyak pesan belum sempat disampaikan 'Pergi' selalu menjadi menutup disetiap cerita Kalimat pasti setelah kata 'pisah' terucap Bila terpisah adalah ia yang berarti. Tak usah dijelaskan tentang sedih. Karena sudah pasti terbayang seperti apa pedih karna pada akhirnya, kita harus menerima bahwa ternyata memang ada kalanya sesuatu hancur dan tidak bisa di perbaiki lagi. kita harus belajar kalau di beberapa cerita milik orang lain kita bukan tokoh utama milik mereka.  kita harus belajar kalau memang terkadang kita tidak diberi kesempatan kedua, tapi bukan berarti tidak pantas untuk kesempatan kedua itu, kita selalu pantas. tapi tidak dicerita yang sama. antara kamu dan aku kita tidak ada yang sama sama salah, tidak ada yang benar juga hanya saja masanya memang sudah lewat  tidak perlu ada yang disesali dan tidak perlu ada yang disalahkan harapku semoga kita dapat ranum dan mekar kembali pada cerita masing-masing

Tidak Apa-Apa Ya

 Beberapa hari belakangan ini betul-betul melelahkan, aku harus pintar-pintar membagi waktu untuk kesibukan sambil babak belur mengatur pikiran dan perasaan. Banyak hal yang harus diselesaikan, tetapi di sisi lain rasanya aku lelah dan hanya ingin menangis meringkuk seharian. Rasa-rasanya kemarin ingin menyerah saja. Beban yang kulawan tidak kasat mata. Tidak tahu harus aku mulai dari mana. Tidur sudah tidak menjadi kegiatan istirahat, melainkan kegiatan untuk sejenak melarikan diri dari kenyataan. Aku lelah dan hampir rebah. Tetapi aku pun mengerti jika tidak ada yang abadi di dunia. Tidak pula sedih, tidak pula bahagia.  Hidup seperti kincir ria, yang harus kita alami tiap fasenya, sebentar di atas lalu sebentar di bawah; agar mampu menikmati serangkaian pemandangan yang indah. Dalam waktu sakit-sakitku, aku bertumbuh. Dalam waktu bahagia-bahagiaku, aku tidak layu. Merasa lelah rupanya lumrah.  Kita manusia.

Wajar, Kekasih

  sengaja masih kutanam namamu di kepala dan jika malam sudah bersama sepertiga kupetik namamu sering-sering lalu menaruhnya di tumpukan doa yang siap berdesing. tapi, kekasih. kau sudah bukan kekasihku. seperti yang kau dan aku tahu: penyair dan penyiar sama-sama gemar menyampaikan berita seperti kesamaan tidak bisa tidur bagi perindu dan peronda tapi yang harus kau pahami yang pandai membuat sajak belum tentu pandai membuat sejuk. wajar, kekasih. jika kau berhenti jadi kekasiku. dan aku yang jadi tunggal sebab kau tinggal sengaja melupakan bagaimana caranya melupakan tak apa, kubilang tak apa, kauhilang sungguh! aku hanya sedang terlalu senang bermain-main di kota kenang walau tak jarang mataku melahirkan genang. sebab, kekasih. kau bukan lagi kekasihku.

Tuhan, Izinkan Aku

 Tuhan, Izinkan aku melepaskan segala kecewaan, biarkan ia meluap begitu saja, asal tidak mendekap dalam diri ini. Izinkan untuk aku melepaskan segala hal-hal yang menyakitkan, yang menyebabkan aku malah banyak menyalahkan segalanya Izinkan aku melepaskan sumpah serapah yang bertuan. izinkan aku menerima segala doa baik yang diucapkan untuk diri ini.  Izinkan aku untuk selalu lapang dan ikhlas. izinkan diri ini menerima lembar dan cerita baru yang lebih baik lagi izinkan diri mencoba kesempatan-kesempatan lain yang lebih baik dan tolong perbolehkan diri ini lebih lama tersenyum untuk bahagia

AKU TIDAK BISA MENERKA

 Tidak ada yang bisa menerka isi hati manusia. Ada yang terlihat selalu ceria, dan tidak ada yang tahu bila tiap malam ia menangis dalam tidurnya. Ada yang terlihat selalu marah, dan tidak ada yang tahu bila sikapnya begitu sebab sudah terlampau banyak kecewa. Ada yang terlihat angkuh, sebab tiap kali ia bercerita, semua orang tak mau dengar dan menganggapnya terlalu rapuh. Ada yang terlihat setia, tetapi kekasihnya ada di mana-mana. Ada yang tertawa, sebab hanya itu cara yang ia tahu untuk membendung air mata. Ada yang terlihat tulus luar biasa, tetapi sebenarnya hanya ingin memanipulasi saja. Sungguh, dalamnya hati manusia tiada yang mampu menerka.

BUKAN AKU (?)

 Saat itu, aku hanya ingin membuatmu bahagia. Tapi kalau hasilnya tidak seperti yang aku perkirakan, itu bukan rencana aku  Tapi apa benar aku orangnya? Atau ada orang lain yang lebih membuatmu bahagia?  Aku tau aku tidak boleh egois, kamu harus bahagia. Walau nantinya harus ku terima bahwa bukan aku orangnya

Nanti Giliran Ku

 Aku berdoa pada Tuhan, mengeluh sebab seharian hawa di kotaku panas tak kepalang, aku meminta hujan turun untuk mendinginkan. Aku bersungut-sungut sebab doaku tak kunjung dikabulkan. Tanpa aku ketahui, ada doa seorang penjual minuman pinggir jalan yang ingin dagangannya laku sebab malam nanti harus menebus obat, ada doa seorang orang tua tunggal yang belum punya biaya membetulkan genteng dan atap rumah, ada seorang supir yang baru saja kehilangan kacamatanya tak mampu melihat jelas jalanan yang tertutup rintik hujan padahal sedang kejar setoran. Doa manusia bermacam-macam. Tunggu giliran. Semuanya tak bisa semaumu. Yang ditunda belum tentu tak indah.

KOTA HUJAN

 kita