Wajar, Kekasih

 

sengaja masih kutanam namamu di kepala

dan jika malam sudah bersama sepertiga

kupetik namamu sering-sering

lalu menaruhnya di tumpukan doa yang siap berdesing.


tapi, kekasih.

kau sudah bukan kekasihku.


seperti yang kau dan aku tahu:

penyair dan penyiar sama-sama gemar menyampaikan berita

seperti kesamaan tidak bisa tidur bagi perindu dan peronda

tapi yang harus kau pahami

yang pandai membuat sajak belum tentu pandai membuat sejuk.


wajar, kekasih.

jika kau berhenti jadi kekasiku.


dan aku yang jadi tunggal sebab kau tinggal

sengaja melupakan bagaimana caranya melupakan

tak apa, kubilang

tak apa, kauhilang

sungguh!

aku hanya sedang terlalu senang bermain-main di kota kenang walau tak jarang mataku melahirkan genang.


sebab, kekasih.

kau bukan lagi kekasihku.


Comments

Popular posts from this blog

Usai

Buku Yang Telah Selesai