Bulan Sepuluh
Bohong bila aku berkata bahwa hidupku selalu berjalan sesuai rencana.
Bohong bila aku berkata aku tidak pernah terkejut akan betapa cepatnya waktu berjalan.
Rasanya, baru saja aku berbahagia dan mengucap berbagai resolusi untuk tahun ini yang berupa-rupa lalu sekarang tanpa terasa sudah ada di bulan sepuluh
Ada malam-malam sewaktu aku sudah sendirian namun kantuk belum datang; lalu bersama kelam, pikiranku melayang-layang.
Aku menebak-nebak akan berada di mana aku sekarang kalau saja beberapa bulan lalu mengambil keputusan yang berbeda. Aku menebak-nebak akan berakhir di mana aku nanti saat usia dua puluh lima. Aku pernah hanyut dalam arus pikiranku yang menduga-duga, pernah merasa yang aku lakukan sia-sia, pernah merasa kalau aku berada pada tempat yang salah.
Lantas, aku pelan-pelan mulai memahami bila hidup bukan perkara siapa yang paling cepat, namun perkara bersabar dan menjalani semuanya dalam waktu yang tepat.
Aku mulai memahami bila semua yang ditakdirkan untukku tidak akan pernah salah alamat.
Aku belajar untuk mengucap kata syukur pada nafas pertama yang aku tarik tiap pagi.
Aku belajar untuk mengucap kata syukur pada nafas terakhir yang aku embuskan tiap malam.
Bahwa sebenarnya yang terjadi padaku adalah yang paling baik adanya, dan kapan saja aku tiba-tiba diambil pulang, hidupku sudah menjadi serangkaian perayaan yang sungguh aku syukuri dan banggakan.
Comments
Post a Comment